TANJUNGPINANG, 28 Maret 2026 – Guru Besar bidang Peptida Biota Laut, Prof. Dr. Lily Viruly, S.TP., M.Si, menyampaikan orasi ilmiah pada prosesi wisuda Universitas Maritim Raja Ali Haji dengan tema “Bioprospeksi Kelautan: Anugerah Ilahi untuk Kemaslahatan”. Orasi ini menyoroti pentingnya pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut sebagai kekuatan strategis dalam mendorong inovasi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Lily menegaskan bahwa wilayah Kepulauan Riau memiliki kekayaan sumber daya laut yang luar biasa, yang ia sebut sebagai “emas biru”. Potensi ini mencakup berbagai biota laut yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, seperti pangan fungsional, obat-obatan, hingga kosmetik berbasis bahan alami yang berdaya saing global.

“Laut yang kita miliki adalah emas biru yang menyimpan potensi luar biasa. Jika dikelola dengan ilmu pengetahuan dan inovasi, sumber daya ini dapat menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari pangan fungsional, obat-obatan, hingga kosmetik berkelas global,” ujar Prof. Lily.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsep bioprospeksi kelautan merupakan pendekatan ilmiah dalam menggali, mengidentifikasi, dan mengembangkan potensi senyawa bioaktif dari organisme laut untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Menurutnya, bioprospeksi bukan hanya kegiatan riset semata, tetapi juga bentuk tanggung jawab dalam mengelola anugerah sumber daya alam untuk kemaslahatan umat.
“Bioprospeksi kelautan bukan sekadar penelitian, tetapi bentuk ikhtiar kita dalam memanfaatkan anugerah Tuhan untuk kemaslahatan umat,” tambahnya.
Namun demikian, Prof. Lily juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi sektor kelautan Indonesia, khususnya terkait penyerapan lulusan. Dari sekitar 35.000 hingga 40.000 lulusan bidang kelautan dan perikanan setiap tahun, hanya sekitar 35% yang bekerja di sektor maritim, sementara 45% bekerja di luar sektor, 13% masih mencari pekerjaan, dan hanya 7% yang memilih berwirausaha. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dan pemanfaatannya oleh sumber daya manusia.
“Kita tidak boleh hanya menjadi pencari kerja. Lulusan kelautan harus berani menjadi inovator dan wirausahawan yang mampu mengolah potensi laut menjadi kekuatan ekonomi,” tegasnya.
Melalui orasi ini, Prof. Lily juga mendorong pentingnya hilirisasi hasil riset, penguatan inovasi berbasis bioteknologi kelautan, serta kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mengembangkan produk berbasis sumber daya laut yang bernilai tambah tinggi.
Orasi ilmiah ini menjadi inspirasi bagi para wisudawan untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan sektor kelautan yang berkelanjutan. Semangat ini sejalan dengan nilai THP on Action (TOA) yang mendorong sivitas akademika untuk aktif, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.
Program Studi Teknologi Hasil Perikanan berharap pesan yang disampaikan dalam orasi ini dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa dan lulusan untuk terus mengembangkan potensi diri, memperkuat kompetensi, serta berani berinovasi dalam memanfaatkan kekayaan laut Indonesia. Dengan sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan, “emas biru” Indonesia diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan bangsa.

